Meninggal Jelang Argentina vs Inggris, Antonio Rattin Ternyata Alasan Kartu Merah Ada di Sepak Bola
Penulis: Diana | 13 Juli 2026


Sepak bola dunia kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarahnya. Antonio Rattin, kapten legendaris Timnas Argentina dan ikon Boca Juniors, wafat pada Sabtu, 11 Juli 2026, di usia 89 tahun. Kabar duka ini diumumkan langsung oleh Boca Juniors, satu-satunya klub yang ia bela sepanjang kariernya.
Yang membuat kepergiannya terasa begitu emosional: Rattin berpulang hanya beberapa hari sebelum Argentina menghadapi Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 pada Kamis, 16 Juli 2026 dua negara yang rivalitasnya justru ikut ia bentuk lewat sebuah insiden legendaris 60 tahun silam.
Insiden Wembley 1966: Diusir Wasit Tanpa Kartu
Inilah bagian paling ikonik dari hidup Rattin. Di perempat final Piala Dunia 1966, Argentina bertemu tuan rumah Inggris di Stadion Wembley. Sebagai kapten, Rattin diusir keluar lapangan oleh wasit asal Jerman, Rudolf Kreitlein, atas tuduhan kekerasan verbal.
Masalahnya? Saat itu kartu kuning dan kartu merah belum ada. Keputusan wasit hanya disampaikan secara lisan dan Kreitlein tidak bisa berbahasa Spanyol, sementara Rattin tidak paham bahasa sang wasit. Merasa tidak mengerti kesalahannya, Rattin menolak meninggalkan lapangan selama beberapa menit.
Protesnya pun jadi tontonan dunia. Sebelum akhirnya keluar, ia sempat meremas bendera sudut lapangan berlogo Inggris dan duduk di karpet merah yang disiapkan untuk Ratu Elizabeth II. Insiden ini memicu ketegangan besar antara sepak bola Argentina dan Inggris.
Baca juga: Tempat Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Jakarta, Ini Daftarnya!
Dari Kekacauan Wembley, Lahirlah Kartu Kuning dan Merah
Kekisruhan itu membuka mata FIFA: keputusan wasit harus bisa dipahami semua pemain tanpa terhalang bahasa. Evaluasi panjang pun berujung pada diperkenalkannya sistem kartu kuning dan kartu merah di Piala Dunia 1970 sistem yang masih dipakai di seluruh dunia sampai detik ini.
Jadi setiap kali kamu melihat wasit mengacungkan kartu di layar kaca, ada jejak Antonio Rattin di baliknya. Ironisnya, pria yang "diusir tanpa kartu" justru jadi alasan kartu itu diciptakan.
Setia 14 Tahun di Satu Klub: Boca Juniors
Lahir di Tigre pada 16 Mei 1937, Rattin adalah definisi one-club man. Sejak debut pada 1956 hingga pensiun pada 1970, ia hanya mengenakan seragam biru-emas Boca Juniors — total 382 penampilan dengan 28 gol.
Dari posisi gelandang bertahan, ia mempersembahkan empat gelar liga Argentina (1962, 1964, 1965, dan Nacional 1969) serta membawa Boca ke final Copa Libertadores 1963. Kepemimpinan dan ketangguhannya membuatnya dijuluki "El Caudillo" alias Sang Pemimpin.
Di level timnas, Rattin mengoleksi 34 caps bersama Argentina pada 1959–1969 dan tampil di dua Piala Dunia: 1962 di Chile dan 1966 di Inggris, di mana ia dipercaya menjadi kapten. Setelah gantung sepatu, ia sempat melatih Boca Juniors pada 1980 dan kemudian terjun ke politik sebagai anggota parlemen Argentina.
Ban Hitam La Albiceleste dan Semifinal yang Penuh Makna
Duka Rattin langsung terasa di Piala Dunia 2026. Saat mengalahkan Swiss di perempat final, skuad asuhan Lionel Scaloni tampil mengenakan ban lengan hitam sebagai penghormatan untuk mantan kapten mereka atas persetujuan FIFA setelah permohonan Federasi Sepak Bola Argentina (AFA).
Kini, enam dekade setelah drama Wembley, takdir mempertemukan kembali Argentina dan Inggris di semifinal. Laga Kamis dini hari nanti bukan lagi sekadar perebutan tiket final, tapi juga panggung penghormatan terakhir untuk sosok yang ikut menulis sejarah rivalitas kedua negara. Selamat jalan, El Caudillo.














